Sabtu, 21 Mei 2016

Ormas Bitung Tolak Paham Radikalisme

BITUNG - Sejumlah organisasi kepemudaan di Kota Bitung menolak tegas keberadaan paham radikalisme yang mulai merongrong negeri ini, seperti yang dilontark Terry Wowor Ketua DPC GAMKI Cabang Bitung keberadaan paham radikalisme bakal merusak kutuhan bangsa dan mencerai beraikan sesama. "Untuk itulah kami dengan tegas menolak paham ini, paham yang unjung-ujung bertindak kekerasan," tegas Wowor ditemui usai mengikuti pelaksanaan upacara bendera dalam rangka hari kebangkitan Nasional, Jumat (20/5) kemarin.


Menurut Wowor masyarakat Sulut khususnya kota Bitung jangan sekali-kali menganut paham tersebut, melainkan harus berlandaskan kasih. "Ya, dengan kasih kita dapat mewujudkan kecintaan dan mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI)," terangnya.

Wali kota Bitung Max Lomban menilai saat ini terjadi beda tafsir terhadap paham dan ideologi Negara hingga muncul beberapa tindakan yang melenceng hingga menghadirkan kelompok-kelompok yang menganut faham radikal. "Contohnya, ISIS, Teroris, Gafatar dan masih banyak lagi faham lain yang berkembang ditengah masyarakat yang tidak sesuai kaedah dan norma serta dasar hukum NKRI," jelas Lomban.

Sementara itu menurut Taufik Pasiak, akademisi Unsrat potensi ancaman gesekan horizontal karena berbagai aspek ditambah masuknya beberapa paham radikal ke dalam masyarakat menambah rumit persoalan sosial kemasyarakat yang ada sekarang ini. Ini diungkapkan ketika membawakan materi dalam seminar wawasan kebangsaan dalam bingkai NKRI yang dilaksanakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) di lantai IV kantor Walikota Bitung.

"Jika ada konflik maka harus ada 3 hal yakni Mediator atau pihak ketiga, pihak yang berkonflik juga bersedia mencari titik temu dan hasil kesepakatan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak bisa mengelak dari kemajuan teknologi sekarang ini walaupun kemajuan itu juga merupakan potensi konflik," ujar Pasiak. Dia menambahkan kemajuan teknologi yang kerap disebut potensi yakni banyaknya pengetahuan yang berkembang kemudian menafsirkan banyak hal yang diluar aturan atau norma-norma yang berlaku, yang akhirnya menimbulkan beberapa paham yang dianggap keliru. "Selain itu, saya sedikit takut jika ada tokoh agama lantas ikut-ikutan dalam politik, ujungnya pasti ada yang akan protes," tandasnya.

Terpisah Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan, Agus Momijo yang dikonfirmasi mengatakan digelarnya seminar ini untuk mewujudkan semangat kebangsaan serta menanamkan nilai-nilai Kebangsaan pada para peserta dari satu generasi ke generasi lainnya dalam rangka menangkal paham radikal dan terorisme. "Sekarang ini kan muncul paham dan potensi konflik yang mengancam nilai-nilai kebangsaan yang sudah susah payah dibangun, olehnya kita buat seminar mengundang semua lembaga adat, siswa dan mahasiswa untuk mendorong semangat kebangsaan mereka," jelas Mamijo. manado.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar